Minggu, 19 Mei 2019

COMMUNITY RELATION

COMMUNITY RELATION
Hasil gambar untuk community relations
Community Relations (Comrel) pada dasarnya adalah kegiatan PR maka langkah-langkah dalam proses PR pun mewarnai langkah-langkah dalam community relations. PR disini lebih dimaknai sebagai kegiatan organisasi dan bukan proses komunikasi yang dilakukan organisasi dengan publiknya. Kalau pun ada sedikit perbedaan dalam pendekatan pelaksanaan kegiatan, lebih disebabkan karena sifat kegiatan yang diselenggarakan dalam community relations ini.
Menurut Wilbur J.Peak yang dimuat dalam Lesley’s Public Relations Handbook dan diterjemahkan oleh Onong U.Effendy mendefinisikan hubungan dengan komunitas sebagai berikut : 
“Hubungan dengan komunitas sebagai fungsi hubungan masyarakat, merupakan partisipasi suatu lembaga yang berencana, aktif dan berkesinambungan dengan dan di dalam suatu komunitas untuk memelihara dan membina lingkungannya demi keuntungan kedua pihak, lembaga dan komunitas.”

Definisi di atas menerangkan bahwa hubungan dengan komunitas berorientasi kepada kegiatan yakni kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan atau lembaga humas. Dengan ikut berpartisipasi, maka keuntungan bukan hanya pada organisasi saja tetapi juga lingkungan sekitarnya.
Menurut Frazier Moore (1988:73) dalam Humas, Prinsip, Kasus dan Masalah bahwa pengertian komunitas adalah :
“Komunitas adalah sekelompok orang yang hidup di tempat yang sama, berperintahan yang samadan mempunyai kebudayaan dan sejarah yang umumnya turun temurun.” 

Dengan adanya hubungan dengan komunitas, maka humas dalam melakukan kegiatan dan fungsinya dapat diarahkan pada pencapaian tujuan organisasi, khususnya dalam menjembatani antara kepentingan publik yang menjadi sasarannya yaitu masyarakat sekitar dimana perusahaan atau organisasi berada. Dengan demikian akan menumbuhkan goodwill, good image dan mutual acceptance antar organisasi dan publiknya
Cutlip and Center dalam bukunya Effective Public Relations, mengatakan bahwa penting diketahui apa yang didambakan komunitas bagi kesejahteraan, apa yang diharapkan dari organisasi untuk kesejahteraannya itu dan bagaiman cara menilai kontribusi tersebut.
Menurut Cutlip and Center, kepentingan komunitas itu tercakup 11 unsur, antara lain adalah : 
1. Kesejahteraan komersial (commercial prosperity)
2. Dukungan agama (support of religion)
3. Lapangan kerja (work of everyone)
4. Fasilitas pendidikan yang memadai (adequate educational facilities) 
5. Hukum, ketertiban, dan keamanan (law, order and safety)
6. Pertumbuhan penduduk (population growth)
7. Perumahan beserta kebutuhannya yang sesuai (proper housing and utilities)
8. Kesempatan berekreasi dan berkebudayaan yang bervariasi (varied recreational and cultural pursuits)
9. Perhatian terhadap keselamatan umum (attention to public welfare)
10. Penanganan kesehatan yang progresif (progressive measures for good health)
11. Pemerintahan ketataprajaan yang cakap (competent municipal government)

Dalam hal ini, komunitas merupakan salah satu bagian publik eksternal yang memegang peranan penting, karena suatu perusahaan atau organisasi tidak akan berfungsi tanpa adanya dukungan dari komunitas.
Hakikat hubungan dengan komunitas adalah titip diri kepada lingkungan, kepada penduduk sekitar agar tidak mengganggu dan bersama-sama menjaga. Untuk itu, sebagai perusahaan yang dekat dengan komunitas seharusnya sama-sama saling menghargai dan memperhatikan kepentingan sekitar.
Kegiatan community relations pun dipandang sebagai bagian dari wujud tanggungjwab sosial organisasi. Sebagai warga negara, organisasi memikul tanggung jawab sosial dalam menjalankan peran turut membantu warga masyarakat untuk mengembangkan dirinya. Karena tanggung jawab sosial itu misalnya, banyak organisasi memberikan bantuan biaya pendidikan dalam bentuk beasiswa atau bantuan dana penelitian bagi warga masyarakat. Ada juga yang mengembangkan tanggungjawab sosialnya dengan membantu usaha kecil dan menengah, atau menyediakan fasilitas perkotaan seperti jembatan penyebrangan dan tempat sampah.
Hubungan antara komunitas dan organisasi lebih tepat dipandang sebagai relasi yang dikembangkan untuk membuka ruang bagi terwujudnya tanggung jawab sosial organisasi. Kembali meminjam ungkapan jefkin tetangga yang baik tentu berperan dalam menunjang keberhasilan. Sehingga komunitas disekitar lokasi operasi organisasi pun demikian pun demikian adanya, akan menunjang keberhasilan satu organisasi untuk mencapai tujuan yang sudah ditetapkan. (security by people).
Dalam konteks PR, Corporate Social Responsibility (CSR) itu di impolementasikan dalam program dan kegiatan community relations. Bisa juga dinyatakan, community relations merupakan bentuk CSR. Ada yang memberikan beasiswa, memberikan bantuan buku, merehabilitisasi lingkungan hidup, atau membantu usaha kerajinan masyarakat. Dan ada tiga bidang perhatian berbagai organisasi bisnis di Indonesia yakni :
1. pendidikan
2. kesehatan
3. seni- budaya

MEDIA RELATIONS

Hasil gambar untuk media relations
PENGERTIAN MEDIA RELATIONS

Mengutip definisi PRSSA, Stanley J Baran 92004, 361) Mendeefinisikan media relation “ sebagai The Public Relation Profesional Maintain Good relation with professional in the media understand their deadlines and other restrains, and earn their trust

Philip Lesley (1991: 7 memberikan Definisi media relation sebagai hubungan dg media komunikasi untuk melakukan publisitas atau mersepon kepentingan media terhadap kepentingan organisasi.

Yosal Iriantara (2005:32) mengartikan media relation merupakan bagian dari public relation eksternal yang membina dan mengembangkan hubungan baik dengan media massa sebagai sarana komunikasi antara organisasi dengan public untuk mencapai tujuan organisasi.

TUJUAN PENGGUNAAN MEDIA DALAM PR

Membantu mempromosikan dan menigkatkan penjualan produk dan jasa
Menjalin komunikasi berkesinambungan
Meningkatkan kepercayaan public
Meningkatkan citra baik perusahaan/ organisasi
TUJUAN MEDIA RELATION 

Bila suatu perusahaan menjalankan program media relation, pada umumnya adalah perusahaan yg sangat membutuhkan dukungan media massa dalam pencapaian tujuan organisasi, cecara rinci tujuan media relation menurut Rachmadi dan Diah Wardani :

Untuk memperoleh publisitas seluas mungkin mengenai kegiatan serta lembaga
Untuk memperoleh tempat dalam pemberitaan media
Untuk memperoleh umpan balik dari masyarakat mengenai upaya dan kegiatan organisasi
Mewujudkan hubungan yg stabil dan berkelanjutan yg dilandasi oleh saling percaya.
MANFAAT MEDIA RELATION

Hubungan yg tercipta baik antara organisasi dg media yg diwakili oleh praktisi PR diharapkan akan lebih positif, sehingga akan terlihat manfaat dari adanya media relations, Yaitu:

Membngun pemahaman mengenai tugas dan tanggung jawab organisasi dan media massa
Membangun kepercayaan timbal balik dengan prinsip saling menghormati, menghargai, kejujuran serta kepercayaan
Penyampaian informasi yg akurat, jujur dan mampu memberikan pencerahan bagi public.
PRESS RELATIONS menjadi MEDIA RELATIONS

Menurut kepustakaan lama PR, istilah umum yg dipergunakan untuk hubungan dengan media adalah Press Relation atau hubungan pers. Istilah pers sendiri juga sering diidentikan dengan media cetak. Bahkan banyak kegiatan dalam media relation menekankan betul pada penjalinan hubungan baik dengan media cetak tersebut.

Istilah Press Relations masih banyak dipergunakan sampai saat ini termasuk untuk menggambarkan hubungan dengan media penyiaran atau online. Dengan banyaknya media diindonesia timbul fenomena “Dunia Sesak Media” (Media Saturated World), kenyataan inilah yang dalam dunia PR dinamakan sebagai Media Relation.

dIberbagai Negara istilah media relation dipergunakan sebagai nama salah satu unit pd bagian atau departemen PR nya. Saat ini semua bagian dari sebuah organisasi atau perusahaan yang memiliki departemen ke PR-nya menyebut Divisi yg berhubungan dg Pers disebut Media Relation.

MEDIA RELATION DALAM PUBLIC RELATION

Public Relations dalam suatu Organisasi

Suatu orgnisasi kerap dilukiskan sebagai satu organisasi hidup. Karena itu organisasi dipandang berdasarkan siklus hidup satu organisme. Ada saat kelahiran, keremajaan, kematangan dan kemudian memasuki masa jompo untuk akhirnya mati. Cara pandang terhadap organisasi yang seperti itu, membuat kita mengenal konsep tahapan perkembangan organisasi. Dalam dunia PR sering dinyatakan bahwa PR adalah fungsi manajemen satu organisasi, maka selama organisasi tersebut ada maka PR pastilah ada. Bisa jadi memang tidak ada divisi PR dalam organisasi itu, namun fungsi PR sebagai fungsi manajemen organisasi tentulah ada.

Peranan Media Relation

Media relation sebagai bagian dari PR tentu saja mengikuti langkah-langkah standar PR. Standar kegiatan atau proses PR meliputi:

Pengumpulan fakta (fact finding), dengan cara
penelitian
menganalisis pemberitaan media (trend analysis)
merumuskan permasalahan berdasarkan hasil penelitian atau kajian.
Perencanaan dan penyusunan program, berdasarkan permasalahan yg sudah dirumuskan
Menjalankan rencana dg tindakan komunikasi
Evaluasi terhadap semua rangkaian kegiatan dan program PR
Preoses PR dpt saja dijalankan sebagai salahsatu strategi komunikasi yg dijalankan organisasi, artinya setelah kita merumuskan permasahan, menganalisis kemungkinan penyelesaiannya dan merumuskan kebijakan yg diambil, didlmnya sudah diperhitungkan dimensi Media Relations evaluasi tersebut pd umumnya utk melihat pengaruh jangka pendek (keluaran program dan pengaruh jangka panjang (dampak program)

Sebagai salah satu unit kerja atau fungsi pada departemen PR maka dg sendirinya apa yg dilakukan dlm Media Rwlation mengacu pd tugas pokok dan fungsi PR dlm organisasi. Dalam lingkup bidang kerja Media Realtion tentu saja ada kegiatan-kegiatan yg dilakukan untuk melakuakan bidang kerja yg lain, misalnya untuk mencapai sasaran community relation, costumer relation atau investor relation. Hal ini dpt dilihat pada gambar slide selanjutnya

Dari gambar tersebut seringkali PR ditafsirkan sebagai kegiatan media sehingga media relation menjadi “Ruh” bagi keseluruhan, karena public mengetahui apa yg dilakukan organisasi sebagian melalui media massa, disanalah fungsi dari seorang media relation.

Dibawah ini merupakan fungsi Media Relation, Menurut Glen dan Denny Griswold :

Menilai sikap public terhadap organisasi
Mengindentifikasikan kebijakan & prosedur individu / organisasi terhadap kepentingan public
Menjalankan program tindakan untuk meraih pengertian dan pengakuan public
Sebenarnya 3 fungsi diatas merupakan salah satu fungsi PR namun sebenarnya 3 fungsi tersebut merupakan fungsi media relation dalam PR

John Vivian (2008,344) memberiakan perhatian khusus pada posisi media relation, bahwa PR memiliki tiga tanggung jawab fungsional yg berkaitan dg fungsi media relation:

Relasi eksternal: komunikasi yg dijalin dg kelompok orang2x diluar perusahaan, konsumen, deler, supplier, tokoh masyarakat, orang2x pemerintah
Relasi internal: komunikasi yg dikembangkan untuk menjaga hubungan antara karyawan, manajer, serikat pekerja, pemegang saham dan kelompok internal lainnya.
Relasi media : komunikasi yg dilkukan perusahaan dg media massa
AKTIVITAS MEDIA RELATION

Aktivitas media relation pd umumnya dijalankan oleh departemen PR, bentuk aktivitasnya berupa:

Pengiriman siaran pers 5. Menyelenggarakan special event
Menyelenggarakan konfrensi pers 6. Menyelenggarakan wawancara khusus
Menyelenggarakan media gathering 7. Menjadi narasumber media
Mengadakan perjalanan pers
Media Massa bagi PRO bukanlah sebagai alat namun sebagai Mitra.

Dibalik semua itu media relation sebagai fungsi khusus kampanye PR adalah tahapan-tahapan dalam proses PR. Bukan sekedar mempublikasikan kegiatan yg diselenggarakan satu organisasi melainkan juga bagaimana publikasi itu menopang atau memperkokoh citra organisasi dimata publiknya. Bukan juga sekedar memperbanyak jumlah kegiatan organisasi diliput media massa. Melainkan juga bagaimana peliputan media massa itu menunjang pencapaian tujuan organisasi. Media Relation merupakan kegiatan yg terencana dg perencanaan yg didasarkan hasil riset, dan ditetapkan untuk mencapai tujuan tertentu.

Bagaimana Media Relation?

Frank Wylie, mantan ketua PRSA, Menytakan bahwa level senior seorang PRO menghabiskan waktunya 10% untuk hal-hal teknis, 40% untuk urusan administrative & 50% memberi penilaian dan 45% mengerjakan apa saja. Hal teknis yg dimaksud berkaitan dg menulis siaran pers, membuat laporan liputan media atau mendokumentasikan kegiatan. Sedangkan untuk analisis antara lain mengkaji opini paublik, membaca kecendrungan atau merumuskan permasalahan berbagai data yg dimiliki. Seorang MRO harus mampu melakukan kedua hal tersebut.

Kompetensi PR dalam Aktivitas Media Relation

Dalam menjalankan kegiatan atau program, seorang MR adalah Handcraft dan Brain craft. Tidak hanya menguasai kemampuan teknik saja seperti menulis siaran pers atau menyiapkan materi presentasi untuk konfrensi pers, tetapi juga kemampuan membaca dan menganalisis opini public dan menyiapkan tindakan yg diperlukan bila ternyata opini public tersebut kontra produktif atau negative bagi organisasi. Secara spesifik, dibawah ini merupakan konpetensi PR yang harus dimiliki dalam menjalankan aktivitas, media relation, yaitu:

kemampuan menulis dg bahasa jurnalistik yg baik & membuat konsep pidato
wawsan yg luas melalui pemahaman perkembangan isu dimedia & masyarakat & hal lain dg media
menguasai pengetahuan komunikasi persuasi dan personal
menguasi produk/corporate knowledge
menguasai komunikasi yg efektif
memiliki kemampuan sebagai narasumber media yg kredibel
PERENCANAAN MEDIA RELATION

Tujuan Merencanakan Media Relation

Untuk membangun image positif perusahaan
Untuk mengklarifikasikan opini negative yang kurang benar dimasyarakat
Untuk mengalihkan perhatian public dari isu negative keisu yg lebih positif
Untuk memudahakan media dalam menentukan kegiatan peliputan
Tahapan-tahapan dalam proses Media Relation yang Mencakup:

Perencanaan
Implementasi
Evaluasi
PERENCANAAN

Dalam thapan perencanan ini biasanya dimulai dg seorang media relation menyusun pertanyaan agar lebih mudah didalam menyusun rencana media relation, pertanyaan berkisar pada:

Dimana posisi organisasi kita saat ini
Siapa khalayak sasaran kita
Apa yang kita inginkan atau apa tujuan kita
Bagaimana mencapai tujuan itu
Taktik apa yg digunakan untuk mencapai tujuan tersebut
Bagaimana kita mengevaluasinya
Pertanyaan diatas tersebut bisa dijawab dg baik, khusus untuk butir 1 bila melakukan audit PR atau audit media relation.

Dalam bahasan ini akan dijelaskan beberapa pendekatan yg dpt dilakuakn seorang media relation didalam membuat perumusan masalah, yg nantinya dpt dijadikan bahan masukan bagi perencanaan media relation, yaitu:

Analisis lingkungan internal organisasi
Analisis SWOT
Model perencanaan ROPE
Model perencanaan kisi-kisi perencanaan
Tahapan-tahapan dalam analisis lingkungan internal organisasi

1. Diawali dg memeriksa visi & misi organisasi yg menjadi dasar penyusunan visi & misi PR yg kemudian dijabarkan dlm visi dan misi MR

2. Mengkaji tujuan jangka panjang dan jangka pendek perusahaan

3. Mengindentifikasi khalayak sasaran

4. Mengkaji struktur organisasi, apa sudah sesuai dg kebutuhan organisasi u/ mencapai tujuan

5. Mengkaji program-program media relation yang pernah ada

6. Memeriksa sarana komunikasi yg tersedia u/menjalankan program & kegiatan MR tersebut

7. Yang paling penting & yg terpenting dari audit MR ini adalah menyesauikan antara pesan yg disampaikan kpd pblik dan persepsi public terhadap organisasi.

Analisa SWOT

APA ITU SWOT ??

yaitu mengkaji kekuatan, kelemahan, peluang,& ancaman organisasi. Kekuatan&kelemahan organisasi berada pd lingkungan internal, sedangkan peluang & ancaman berasal dr eksternal.

APA FUNGSI SWOT dalam Media Relation ??

Dalam kontak MR, analisis SWOT dilakukan untuk melihat apa dan bagaimana kekuatan dan kelemahan yg dimilki serta bagaimana peluang & ancaman yg kekuatan dari organisasi dan hasil dari SWOT biasanya dipakai pijakan untuk menyusun strategi.

TAHAPAN apa SAJA yang dilakukan untuk analisis SWOT ??

Membauat bagan untuk memetakan, kelemahan, peluang dan ancaman organisasi.
Untuk menganalilsis peta kekuatan, kelemahan peluang & ancaman organisasi dpt bertanya kpd orang lingkungan organisasi & bbrp wakil public u/ mengetahui bgaimn persepsi mrk terhadap organisasi
Setelah mengetahui pemetaan kekuatan, kelemahan peluang dan ancaman organisasi hasil pemetaan ini dpt dijadikan acuan didlm membuat strategi yg dipergunakan u/ menjakau sasaran

GOVERMENT RELATIONS

Hasil gambar untuk government relation
Government Relations
Government Relations (GR) adalah suatu hubungan perusahaan dengan pemerintah pemerintah, yang erat hubungannya dengan lembaga legislatif, peraturan pemerintah dimana dalam hal ini, PR memerlukan keahliah khusus untuk mencapai hasil positif yang dapat di terima oleh publik melalui perencanaan pemerintahan. GR dapat bergerak dalam bidang-bidang seperti alokasi, kesehatan, pertahanan, energi, lingkungan, jasa keuangan, keamanan dalam negeri, kebijakan pajak, telekomunikasi dan transportasi.
Praktisi PR dalam hal ini bertugas untuk menjadi konsultan/memecahkan/menasihati pemerintahan dalam masalah-masalah tertentu :
GR, mendukung klien sebelum mengambil keputusan utama dalam pemerintahan sehari-hari. Advokasi yang efektif sering kali memerlukan kerja yang simultan yang menyangkut 2 strategi utama :
Offense – dalam hal ini, PR bertugas untuk ”move the desimal point” dimana PR harus membagi bagian fraksional dari suatu kegiatan pemerintah. Ini mungkin melibatkan penyusutan jadwal yang lebih pendek dalam kode pajak atau memperluas definisi untuk menyertakan teknologi baru yang akan memenuhi syarat untuk dana pemerintah.
Deffense – Bekerja dengan koalisi di sektor swasta dan pejabat pemerintah untuk memblokir peraturan pemerintah dari yang berdampak negatif neraca korporasi. Hal ini mungkin termasuk ketentuan-ketentuan dalam kesehatan, reformasi peraturan atau undang-undang iklim yang mempunyai efek negatif atau yang tidak seimbang pada korporasi.
Government relations memiliki tugas:
a. Menggali data dari pemerintah
b. Monitoring & interpretasi langkah-langkah pemerintah
c. Menyampaikan feed back dari perusahaan atas berbagai kebijakan pemerintah
d. Membangun posisi
e. Mendukung pemasaran
Government relations memiliki posisi yang penting bagi perusahaan, arti penting government relation adalah menciptakan keselarasan antara berbagai kebijakan pemerintah dengan perusahaan (investasi, kerja sama dagang, pajak dan lain-lain, memberikan jaminan perlindungan disaat krisis dan mempercepat proses birokrasi atas berbagai kepentingan perusahaan.

Tujuan government relations bagi praktisi humas perusahaan berdekatan dengan pemerintah antara lain :
1. Meningkatkan komunikasi dengan pejabat pemerintah dan lembaga tinggi negara.
2. Memantau lembaga pembuat keputusan dan peraturan pada area yang mempengaruhi bidang usaha.
3. Mempengaruhi undang-undang yang berdampak pada ekonomi rakyat dan pelaksanaannya.
4. Meningkatkan kesadaran dan pemahaman para pembuat keputusan.
5. Mengurangi ketidakpastian karena tidak dapak membaca tanda-tanda peraturan.
6. Mempercepat keluarnya keputusan yang berkaitan dengan operasional perusahaan.
7. Meningkatkan pemahaman antara instansi/lembaga yang satu dengan yang lainnya.
8. Mendapatkan perlindungan dan pembelaan oleh pemerintah ketika masa kritis.

HUBUNGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL PUBLIC RELATIONS

Hasil gambar untuk internal relations


HUBUNGAN INTERNAL


praktisi humas memiliki berbagai macam tugas untuk membantu perusahaan atau organisasi dalam mencapai sebuah tujuan serta menjalin hubungan yang harmonis kepada pihak yang terkait. Dua lingkup humas dalam menjalankan fungsinya adalah:
Internal relations
 hubungan yang dijalin oleh humas yang menyangkut hubungan antara stakeholder dengan pemilik perusahaan atau pemegang saham. hubungan yang dijalin ini ditujukan untuk menciptakan sebuah kenyamanan kerja yang kondusif. menjalin kedekatan dapat membangun sebuah keakraban antara stakeholder dengan stakeholder maupun stakeholder dengan pemilik perusahaan. hal ini dimaksudkan untuk menumbuhkan kekompakan dan menjalin kerjasama di lingkungan perusahaan.
lingkungan kerja yang nyaman dan kompak akan membuat suasana kerja menjadi menyenangkan dan semangat. dengan adanya kekompakan dalam tim, dapat mempengaruhi hasil kerja dan kemajuan sebuah perusahaan dan memunculkan ide-ide baru yang segar.
HUBUNGAN EKSTERNAL
  Eksternal public relations
hubungan yang dijalin menyangkut hubungan antar pelanggan, masyarakat, komunitas, pemerintah hingga media massa dan pihak yang terlibat dengan perusahaan. dalam menjalin sebuah hubungan dengan pihak eksternal, dapat lebih memperkenalkan perusahaan dengan pihak terkait, menjaga keharmonisan serta kerja sama dan menciptakan opini public yang positif. 

RESEARCH

Hasil gambar untuk penelitian public relations
PENELITIAN PUBLIC RELATIONS

Sifat penelitian Public Relations untuk suatu perusahaan atau organisasi cenderung mengarah pada pemecahan masalah.

Dalam tahun 1990'an para profesional public relations merasakan perlunya to listen (mendengar) tentang berbagai hal di dalam atau diluar perusahaan atau organisasi. Unsur listening ini menjadi sangat penting dan kini bagian dari tugas tau pekerjaan  PR. Nama lain dari listening dalam PR adalah penelitian atau riset, terutama penelitian yang menyangkut opini publik, diksp dan reaksi terhadap kebijaksanaan dan operasional perusahaan. Penelitian menjadi esensial dalam kegiatan modern.

PENELITIAN PUBLIC RELATIONS

Instink, intuisi dan good feeling semuanya tetap penting dalam melakukan pekerjaan PR. Penelitian yang dipakai dalam pekerjaan PR terdapat dua tahapan. Tahapan pertama, Yaitu sebelum membuat perencanaan suatu kampanye dan tahap akhir adalah mengevaluasi efektivitas suatu program. Riset membantu untuk mengetahui situasi saat ini, sikap-sikap umum dan kendala-kendala pelaksanaan program. Setelah itu, penelitian menguji keberhasilan program PR

PENELITIAN PUBLIC RELATIONS

Menurut Jalaludin Rakhmat, dalam diktatnya berjudul Penelitian Public Relations, kini PR sudah tersebar ke seluruh dunia,telah mapan sebagai seni (keahlian),tetapi juga sebagai ilmu sosial dan akhirnya bukan semata-mata menceritakan tentang kebaikan suatu perusahaan atau instansi tetapi meliputi penelitian yang telah direncanakan secara cermat untuk menganalisis kecenderungan umum dimasyarakat, meramalkan akibat-akibatnya, membimbing pemimpin organisasi melaksanakan program tindakan yang terencana. Penelitian telah menjadi alat viral PR. Di Amerika, penelitian PR telah merebut perhatian utama sarjana dan praktisi PR, terbukti dengan banyaknya artikel yang ditulis tentang PR.

Carlson dalam Rakhmat (1982) mengemukakan penelitian PR mempunyai tiga fungsi :

  1. Meyakinkan anggapan-anggapan tentang situasi opini publik yang berkenaan dengan suatu masalah,produk,atau perusahaan.
  2. Menjelaskan masalah-masalah yang didalamnya terdapat informasi yang terbatas dan data-data yang tampaknya bertentangan.
  3. Memberikan pengarahan pada pemikiran dan konseptualisasi kita tentang problematika.
Dalam upaya ingin mengetahui secara khusus apa manfaat penelitian dalam seluruh proses PR, Rakhmat menegaskan kembali tentang cangkupan penelitian PR, yaitu :

  • Dalam dunia perguruan tinggi, PR adalah suatu disiplin ilmu yang merupakan bagian dari ilmu komunikasi. Mempelajari proses komunikasi antara perusahaan dengan publiknya, faktor-faktor yang memperlancar dan menghambat efektivitas komunikasi, serta karakteristik tertentu yang membedakan PR dari bentuk komunikasi lainnya.
  • Bagi pejabat PR adalah suatu keahlian (skill). Menciptakan kerjasama yang baik antara perusahaan dengan publiknya, suatu seni untuk menjual perusahaan. Sebagai keahlian, PR dibentuk berdasarkan pengalaman
  • Bagi perusahaan atau organisasi, PR adalah suatu kegiatan yang berlangsung terus-menerus dalam melaksanakan salah satu fungsi manajemen.

BENTUK-BENTUK PENELITIAN PUBLIC RELATIONS

Secara umum penelitian dilakukan menyangkut tiga hal :
  1. Menggambarkan suatu proses,situasi,atau fenomena
  2. Menjelaskan mengapa sesuatu kemungkinan terjadi, apa penyebabnya dan apa pengaruhnya kejadian itu
  3. Memprediksi kemungkinan yang akan terjadi jika akan bertindak atau tidak melakukan tindakan.
BENTUK-BENTUK PENELITIAN PUBLIC RELATIONS

Banyak sekali penelitian PR bersifat teori dan terapan.

Penelitian terapan
Untuk memecahkan masalah secara praktis, sedangkan penelitian teoritikal mengingatkan tentang proses PR. Dalam pekerjaan PR penelitian terapan bersifat strategis dan evaluatif. Aplikasinya dirancang menjawab pertanyaan praktis secara spesifik.

Penelitian stategis
Digunakan terutama dalam pengembangan program, untuk menentukan tujuan-tujuan program, mengembangkan pesan strategis yang hendaknya tercapai. Sebagai contoh : suatu perusahaan yang ingin mengetahui bagaimana tingkat keterbukaan karyawan dalam publikasi internal terutama kali akan melakukan penelitian strategis untuk menemukan mana dan bagaimana kondisinya.

Penelitian evaluatif
Kadang-kadang bersifat summative research (penelitian sumatif) dilakukan terutama untuk melihat apakah suatu program PR mencapai tujuan untuk dan sasaran yang telah ditentukan. Sebagaimana contoh : jika perubahan dibuat dalam program komunikasi internal untuk meningkatkan keterbukaan. Penelitian evaluatif dapat menemukan apakah tujuan tercapai.

Penelitian teoritikal PR
Adalah lebih abstrak dan konseptual dibanding penelitian terapan. Penelitian ini menunjang pengembangan berbagai teori dalam PR, seperti mengapa orang-orang berkomunikasi, bagaimana opini publik dibentuk dan bagaimana suatu publik dibentuk. Pengetahuan penelitian teoritikal adalah penting sebagai keragkan kerja untuk persuasif dan menjadi dasar pemahaman mengapa orang-orang melakukan itu dan apa yang dilakukan orang itu.
Dalam PR, penelitian diterapkan untuk menentukan program komukasi tingkat lanjut, sikap-sikap dan kepercayaan publik. Penelitian ini bisa dipakai untuk memantau penampilan PR dalam proses dan proses dan sebagai suatu mekanisme evaluatif untuk melihat perkembangan program,keberhasilan dan perubahan yang dianjurkan. Bila terbatas pada informasi yang didapatkan,penelitian PR juga dapat membantu menjelaskan isu.
Sebagai contoh : Sikap sering tidak jelas,dan orang-orang boleh berbicara tentang mereka menyukai sesuatu tanpa mengatakan secara spesifik tentang karakteristik khusus yang mereka katakan. Penelitian dapat menggali lenih mendalam untuk memperoleh hal yang lebih spesifik. Seringkali hasil penelitian juga mengkonfirmasi tentang asumsi-asumsi tentang opini publik. Intuisi mungkin akurat, tetapi penelitian menguatkan validitas program PR.

METODE PENELITIAN PUBLIC RELATIONS
Tiga bentuk metode utama penelitian PR :
  1. Surveys (survey) dirancang untuk mengungkap sikap dan opini apa yang orang-orang pikirkan tentang pokok persoalan tertentu.
  2. Communication audit (Audit komunikasi) seringkali dirancang untuk menangkap perbedaan antara kenyataan dan komunikasi yang dirasakan antara manajemen dan target khalayak.
  3. Unobtrusive measure (pengukuran yang tidak sulit) seperti fact finding (penemuan fakta) analisis isi dan penelitian suatu subjek atau objek tanpa keterlibatan peneliti atau penelitian diam-diam

MANAGEMENT KRISIS

Gambar terkait
  • Setiap organisasi atau perusahaan pasti pernah mengalami masalah (internal maupun eksternal). Beberapa masalah bahkan ada yang menjadikan organisasi atau perusahaan tersebut terjerumus ke dalam krisis.
  • Krisis adalah "keadaan yang genting, kemelut, masa bahaya, kesukaran, dan atau keraguan akan masa depan" (Purwodarminto : Kamus Bahasa Inggris-Indonesia) yang apabila dibiarkan akan merugikan atau bahkan mengancam eksistensi daripada organisasi/perusahaan/lembaga.
  • Oleh karena itu, sebelum krisis berkembang menjadi akut atau bahkan kronis, upaya untuk mengelolah krisis perlu dilakukan.
  • Krisis bisa bersumber dari berbagai macam persoalan baik bersifat internal maupun eksternal.
  • Persoalan Internal : Konflik manajemen, konflik karyawan (pemutusan hubungan kerja, tuntutan kenaikan gaji) yang berakibat pada menurunnya kinerja perusahaan, kesalahan produk yang berakibat pada menurunnya omzet penjualan, dan lain sebagainya.
  • Persoalan Eksternal : Konflik antara perusahaan dengan publiknya, yang bisa disebabkan oleh konflik terbuka antarelit politis, keluhan pelanggan, kebijakan pemerintah, depresi ekonomi, dan lain sebagainya.
  • Beberapa organisasi atau perusahaan yang mengalami krisis dapat mengatasinya dengan baik. Sebaliknya, beberapa lainnya bahkan gagal sehingga berdampak serius terhadap eksistensi organisasi atau perusahaan itu sendiri, termasuk menurunnya citra organisasi atau perusahaan maupun merek produk yang bersangkutan hingga akhirnya tidak bisa lagi dipercaya publik, sehingga berpengaruh langsung terhadap omzet penjualan.

BEBERAPA CONTOH PERUSAHAAN YANG PERNAH DILANDA KRISIS YANG CUKUP RUMIT DAN PELIK

  1. Kasus Tylenol di Amerika Serikat (1982)
  2. Peristiwa Chernobyl di Rusia (1986)
  3. Kecelakaan Bhopal di india : 40 ton gas beracun 'methyl isocynate' bocor dari tangki penyimpanan bawah tanah pabrik pestisida Union Carbide (1994)
  4. Kasus minyak babi pada susu Dancow (1988)
  5. Kontes Promosi Keju Kraft (1999)
  6. Kasus haram bumbu masak Ajinomoto (2001)
  7. Kasus kandungan kafein yang berlebih krating daeng (2001)
  8. Kasus pendudukan pablik oleh karyawan PT.Dirgantara Indonesia sebagai protes PHK (2002)
  9. Kasus kandungan racun hidroxylic acid pada Teh Botol Sosro (2009)
  10. Kasus Natrium Benzoat pada produk minuman Myzone
  11. Kasus keluhan pelanggan RS Intenasional OMNI (2010)
  12. Kasus penganiayaan nasabah sampai meninggal di kantor Citibank (2010)
  13. Kasus pemogokan karyawan PT.Freeport yang menuntut kenaikan gaji (2011)
Hasil gambar untuk Konflik

PENGERTIAN ISU,KRISIS,DAN KONFLIK

  • Krisis yang menimpa suatu organisasi atau perusahaan bisa disebabkan oleh berkembangnya suatu isu.
  • Isu adalah suara negatif/miring baik di masy. Ataupun dimedia massa tentang organisasi atau perusahaan kita, tapi belum memberikan dampak yang signifikan terhadap kinerja organisasi.
  • Apabila tidak dikelola dengan baik, suatu isu kinerja organisasi atau perusahaan (demonstrasi,mogok kerja,dlsb.)
  • Dengan demikian maka isu tersebut telah berubah menjadi krisis
  • Isu juga biasa berkembang karena adanya konflik,baik yang bersifat internal maupun eksternal.
  • Konflik adalah suatu perjuangan atau kontes diantara orang-orang yang memiliki kebutuhan,gagasan kepercayaan,nilai,atau tujuan yang berlawanan.
  • Konflik bisa semakin memanas dan menghasilkan akibat yang tidak produktif, akan tetapi konflik bisa diselesaikan dan menuju ke produk akhir yang berkualitas.
  • Konflik sering terjadi karena miskomunikasi berkaitan dengan kebutuhan,gagasan,tujuan,dan nilai dari mereka yang saling terlibat konflik.
  • Isu tentang kematian karyawan sebagai akibat dari tindak kekerasan yang dilakukan oleh majikan,meskipun hal itu tidak sepenuhnya betul, bisa memancing kemarahan karyawan lainnya atau bahkan masyarakat sekitar perusahaan untuk melakukan pengrusakan atau bahkan pembakaran bangunan atau fasilitas organisasi atau perusahaan.
  • Konflik antara perusahaan dengan klien/konsumennya yang mengeluhkan pelayanan yang diberikan oleh perusahaan terhadap kliennya bisa berkembang menjadi krisis ketika persoalan itu berhasil menyentuh hati dan perasaan orang banyak.
DAMPAK KRISIS

  • Selain dapat menimbulkan kerugian secara material,seperti menurunnya kinerja yang berakibat pada penurunan omzet penjualan,krisis juga bisa berdampak kepada merosotnya atau bahkan rusaknya citra organisasi atau perusahaan dimata publiknya.
  • Meskipun krisis citra sering diakibatkan oleh krisis manajemen,tapi bukan berarti begitu krisis manajemen selesai maka krisis citra juga dengan sendirinya usai (Silih Agung Wasesa dan Jim MacNamara)
  • Silih Agung Wasesa dan Jim MacNamara : "Suatu hal yang sering terjadi dalam krisis citra sebuah perusahaan adalah krisis citra berkembang jauh lebih besar daripada kenyataan yang terjadi di lapangan.Oleh karena itu penanganannya bukan terletak pada selesai tidaknya masalah krisis manajemen dalam perusahaan,tapi jauh lebih lagi,harus melihat lagi apakah citra perusahaan di mata publik sudah membaik atau belum " (Silih Agung Wasesa dan Jim Macnamara)
  • Citra adalah persepsi seseorang terhadap suatu realitas tertentu.
  • "Sebuah realitas bisa dipersepsikan berbeda oleh tiap-tiap individu, dan juga bisa dipersepsikan berbeda oleh anggota publik yang berbeda. Untuk mendapatkan citra yang diinginkan oleh manajemen perusahaan,perlu dipahami secara persis proses seleksi apa yang terjadi ketika publik menerima informasi mengenai realitas tadi"
  • "Seberapa jauh citra akan terbentuk sepenuhnya akan ditentukan oleh bagaimana PR mampu membangun persepsi yang didasarkan oleh realitas yang terjadi. Sekalipun persepsi belum tentu sama dengan realitas yang muncul,tetapi persepsi tidak bisa dibangun tanpa realitas yang mendasar"
  • Persepsi Realitas,dan Citra (PRC) harus dibangun dengan fondasi kredibilitas.
  • PRC yang tidak didasari oleh informasi realitas yang memiliki kredibilitas tidak hanya akan membangun citra yang lemah. Resiko yang diakibatkan oleh informasi yang tidak kredibel adalah banyaknya celah yang bisa dilihat oleh publik termasuk pihak lain yang memiliki kepentingan berseberangan untuk kemudian membalik cerita menjadi negative dengan mudah.
  • Pendek kata,citra tidak bisa dipilih secara kaku pada area baik dan buruk. Citra harus dikembangkan berdasarkan pada perkembangan bisnis yang dimiliki oleh perusahaan.


TAHAPAN KRISIS

Rhenald Kasali membagi anatomi krisis kedalam empat tahap,yaitu :
  1. Tahap Prodromal, dimana krisis baru muncul dan belum mempunyai dampak yang luas terhadap citra perusahaan.
  2. Tahap Akut, merupakan pola krisis dimana persoalan mulai muncul ke permukaan. Tahap ini terjadi biasanya karena kelengahan manajemen untuk menanggapi tahap prodromal. Tidak jarang,pihak-pihak yang memiliki kepentingan berbeda memanfaatkan krisis ini secara maksimal.
  3. Tahap Kronik, dimana krisis telah berlalu dan yang tinggal hanyalah puing-puing masalah akibat krisis. Korban juga sudah banyak yang berjatuhan akibat krisis ini. Jadi tahap ini lebih menyoal bagaimana membersihkan kerusakan-kerusakan akibat krisis.
  4. Tahap Resolusi, dimana manajemen harus memulihkan kekuatan agar kembali seperti sedia kala hingga dapat melanjutkan aktivitas sebelumnya dengan normal kembali.

PENANGANAN KRISIS

Ada paling tidak dua tahapan yang perlu dilakukan untuk penanganan krisis :
  • Kalau krisis terjadi karena adanya konflik internal maupun eksternal maka penyelesaian konflik akan menjadi bagian penting dari penanganan krisis.
  • Akan tetapi,sekali pun konflik sudah dapat diselesaikan,citra organisasi atau perusahaan tidak dengan sendirinya akan membaik kembali atau persoalan penanganan krisis dengan sendirinya selesai.
  • Masiha diperlukan kerja keras untuk menjaga agar citra organisasi atau perusahaan tidak merosot akibat konflik,atau memulihkan kembali citra yang terlanjur merosot akibat terjadinya komflik.

MANAJEMEN KONFLIK

Mispersepsi seringkali menimbulkan konflik :
  1. pandangan bahwa musuh jahat seperti setan.
  2. dirinya sendiri yang paling jantan.
  3. dirinya sendiri yang paling moralis.
  4. tidak memperhatikan hal-hal yang bertentangan dengan keyakinan (informasi dari musuh adalah selalu tidak benar).
  5. tidak adanya rasa empati,dan
  6. keyakinan berlebihan akan kekuatan pihak lain yang dapat mengancam kepentingannya.


KOMUNIKASI DAN KONFLIK

  • Mispersepsi bisa terjadi karena miskomunikasi,
  • Rumitnya jaringan dan ruwetnya jalur-jalur komunikasi memungkinkan terjadinya distorsi pesan, hal ini pada akhirnya dapat menimbulkan salah komukasi (miscommunication),dapat pula menjadi salah persepsi (misperception), yang pada gilirannya salah interpretasi (misinterpretation) yang pada gilirannya berikutnya terjadi salah pengertian (misunderstanding).
  • Dalam hal-hal tertentu salah pengertian ini menimbulkan salah perilaku (misbehavior)

PROSES TERJADINYA KONFLIK

  • Distorsi Pesan --> salah komukasi (misscommunication)
  • salah persepsi (misperception)
  • salah interpretasi (misinterpretation)
  • salah pengertian (misunderstanding)
  • salah perilaku (misbehavior)
  • KONFLIK
  • Untuk mengelola konflik, kecakapan berkomunikas dalam bentuk lobi dan negosiasi sangat diperlukan.

MANAJEMEN KONFLIK

  • Untuk menangani krisis diperlukan tidak hanya kecakapan untuk mengelola konflik akan tetapi juga kecakapan untuk mengelola krisis. Dua pekerjaan ini haruslah berjalan beriringan.
  • Lima model pengelolaan konflik
  • Competing : high assertiveness and low cooperation. When quick action needs to be taken, when unpolular decisions need to be made, when vital issues must be handled, or when one is protecting self-interests.
  • Competing Skills : arguing or debating, using rank or influence, asserting  your opinions and stating your position clearly.
  • Bagaimana respons seseorang terhadap konflik akan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain adalah :
  1. Grender
  2. Self-concept
  3. Expectations
  4. Situation
  5. Position (Power)
  6. Pratice
  7. Determining the best mode
  8. Communication skills,dam
  9. Life experience
  • Untuk mengelola krisis,diperlukan sikap yaitu :
  1. Memahami potensi krisis itu sendiri
  2. memahami proses terjadinya krisis mulai dari adanya isu
  3. mental set saat mencari penanganan krisis. Jangan sekali-sekali mencari kambing hitam,akan tetapi cari betul "siapa sebenarnya paling berjasa dalam krisis " dan
  4. pemilihan third party endoser yang memiliki kredibilitas yang kuat.
  • Langkah-langkah dalam menangani krisis yang langsung berhadapan dengan publik
  1. Pendalaman data dan fakta melalui riset secara kualitatif berdasar pada : (a) pandangan wartawan,stakeholders, dan pembuat opini publik atas isu yang berkembang (Opinion Leader Map Analysis). Lakukan media break dengan media mainstream yang berkaitan dengan isu yang berkembang.Lakukan routing isu saat media break sehingga kita bisa melihat Asal Isu Akibat Pemberitaan-Respons Publik yang mungkin muncul dari setiap penanganan yang dikembangkan;(b) peta pencitraan isu dan karakter informasi; dan (c) mengembangkan alternatif yang mungkin berkembang akibat krisis isu yang berkelanjutan,serta cara-cara penanganan yang sesuai dengan karakter bisnisnya.
  • Disarankan pula agar krisis citra meledak, segera buat peta persepsi yang berkembang. Pada tahap ini, opini tidak lagi bisa dibentuk dengan model satu arah. Pengembangan opini harus didasarkan pada opini yang berkembang dalam wacana publik, kemudian disesuaikan dengan tujuan penyelesaian krisis. Ketika krisis citra terjadi, pimpinan harus segera melakukan routing penyebab krisis terjadi. Perang opini baik dimedia massa ataupun media spesifik yang mampu menyampaikan pesan langsung ke benak publik melalui battle of mind. Hanya mereka yang menguasai informasi akan memenangkan pertempuran.

Produksi Multimedia/Pengelolaan Sosmed

Gambar terkait

MPR STRATEGIC PLANNING

Review the situation ----->Setting MPR objective----->Developing MPR strategy-----MPR Tactics----->Measuring & Evaluating MPR programs


Review The Situation
Sepuluh pertanyaan dasar (Ron Kaatz)

  1. Apa jenis produk dan layanan kita ?
  2. Siapa target kita ? bagaimana gaya hidup mereka ? bagaimana mereka memikirkannya ? bagaimana produk & servis kita cocok dengan kehidupan mereka?
  3. Apa yang bisa kita perbuat ? Apa yang mereka ingin tahu tentang produk dan layanan kita ?
  4. Dari mana dan dari siapa mereka mendapatkan merek utama (prioritas) dalam proses keputusan pembelian ?
  5. Apa kepentingan dan keuntungan mereka melalui kontak dengan kita ?
  6. Apa yang dibutuhkan konsumen dari kita dalam membantu proses pengambilan keputusan mereka dan bagaimana kita bisa membantu pemenuhan kebutuhan tersebut ?
  7. Apakah tawaran kita layak untuk dihentikan ?
  8. Apakah tawaran kita layak  untuk dijalankan ? Siapa dan apa pengaruh positif buat mereka dan siapa atau apa yang bisa membuat mereka percaya ?
  9. Bagaimana kita bisa menciptakan ikatan dengan mereka dan mengarahkan pada suatu hubungan positif, rasa saling percaya ?
  10. Apa karakteristik sistem penyampaian pesan yang efektif dan membantu kita mencapai semua secara maksimal?
GUNA RISET KONSUMEN DALAM IMC
  1. Public relations contact point. *Sistem penyampaian pesan yang mempengaruhi pemaknaan atau arti merek.
  2. Media Researh (Company--How--Brand)
Reviewing  The Situation

MPR--->Consumer Lifestyle--->Media Preferences--->MPR

IDENTIFYING SWOTs

Swot analysis :
  1. Strenghs (kekuatan) : Punya terbaik
  2. Weaknesses (kelemahan) : Keterbatasan
  3. Opportunities (peluang/kesempatan) : situasi dimana kekuatan perusahaan dan faktor eksternal diupayakan untuk ditangani problem dalam perencanaan.
  4. Threats (ancaman) : situasi yang dapat buat kerugian bagi kemampuan perusahaan mengidentifikasi masalah..

STEP TWO : SETTING MPR OBJETIVE

PRINSIP DASAR : MENGACU PADA PERENCANAAN PEMASARAN TERPADU

TUJUAN PEMASARAN
  • Memaparkan kebijakan yang harus segera dijalankan untuk mencapai tujuan penjualanan.
  • Produk tidak hanya harus ada di toko, namun ditampilkan dan buat elemen pengikut untuk peroleh keuntungan maksimal.

TUJUAN PEMASARAN KONSUMEN

PRODUK BARU :
Launching dengan pola uji coba (Low ticket consumables)

TARGET AUDIENS UNTUK PERIODE TERTENTU : Biasanya Pertahun.

Ceritaku Membuat Makalah Call For Paper

Assalamualaikum.. Hai semua kembali lagi di blogku yang tercinta, kali ini aku mau menceritakan pengalamanku ketika mendapat tugas membuat m...