Minggu, 19 Mei 2019

Produksi Multimedia/Pengelolaan Sosmed

Gambar terkait

MPR STRATEGIC PLANNING

Review the situation ----->Setting MPR objective----->Developing MPR strategy-----MPR Tactics----->Measuring & Evaluating MPR programs


Review The Situation
Sepuluh pertanyaan dasar (Ron Kaatz)

  1. Apa jenis produk dan layanan kita ?
  2. Siapa target kita ? bagaimana gaya hidup mereka ? bagaimana mereka memikirkannya ? bagaimana produk & servis kita cocok dengan kehidupan mereka?
  3. Apa yang bisa kita perbuat ? Apa yang mereka ingin tahu tentang produk dan layanan kita ?
  4. Dari mana dan dari siapa mereka mendapatkan merek utama (prioritas) dalam proses keputusan pembelian ?
  5. Apa kepentingan dan keuntungan mereka melalui kontak dengan kita ?
  6. Apa yang dibutuhkan konsumen dari kita dalam membantu proses pengambilan keputusan mereka dan bagaimana kita bisa membantu pemenuhan kebutuhan tersebut ?
  7. Apakah tawaran kita layak untuk dihentikan ?
  8. Apakah tawaran kita layak  untuk dijalankan ? Siapa dan apa pengaruh positif buat mereka dan siapa atau apa yang bisa membuat mereka percaya ?
  9. Bagaimana kita bisa menciptakan ikatan dengan mereka dan mengarahkan pada suatu hubungan positif, rasa saling percaya ?
  10. Apa karakteristik sistem penyampaian pesan yang efektif dan membantu kita mencapai semua secara maksimal?
GUNA RISET KONSUMEN DALAM IMC
  1. Public relations contact point. *Sistem penyampaian pesan yang mempengaruhi pemaknaan atau arti merek.
  2. Media Researh (Company--How--Brand)
Reviewing  The Situation

MPR--->Consumer Lifestyle--->Media Preferences--->MPR

IDENTIFYING SWOTs

Swot analysis :
  1. Strenghs (kekuatan) : Punya terbaik
  2. Weaknesses (kelemahan) : Keterbatasan
  3. Opportunities (peluang/kesempatan) : situasi dimana kekuatan perusahaan dan faktor eksternal diupayakan untuk ditangani problem dalam perencanaan.
  4. Threats (ancaman) : situasi yang dapat buat kerugian bagi kemampuan perusahaan mengidentifikasi masalah..

STEP TWO : SETTING MPR OBJETIVE

PRINSIP DASAR : MENGACU PADA PERENCANAAN PEMASARAN TERPADU

TUJUAN PEMASARAN
  • Memaparkan kebijakan yang harus segera dijalankan untuk mencapai tujuan penjualanan.
  • Produk tidak hanya harus ada di toko, namun ditampilkan dan buat elemen pengikut untuk peroleh keuntungan maksimal.

TUJUAN PEMASARAN KONSUMEN

PRODUK BARU :
Launching dengan pola uji coba (Low ticket consumables)

TARGET AUDIENS UNTUK PERIODE TERTENTU : Biasanya Pertahun.

Minggu, 24 Maret 2019

Tokoh PR favorit versi saya



Hasil gambar untuk prita kemal gani
Pendiri dan Direktur The London School of Public Relations (LSPR), Jakarta yang juga President ASEAN Public Relations Network, Prita Kemal Gani, lahir pada 23 November 1961 di Jakarta. Prita Kemal merupakan anak kedua dari lima bersaudara. Semasa kecilnya, kehidupan wanita tegar ini, tidaklah mulus, banyak liku liku yang dialaminya sejak usia 5 tahun, dimana sang ayah dipanggil Ilahi karena sakit. Prita kecil terus berjuang hidup bersama ibu dan saudaranya. Karena kegigihannya Prita pun menginjakkan kaki ke jenjang pendidikan tinggi salah satunya di Akademi Perhotelan Trisakti. Tekad Prita sangat kuat, Prita pun lantas menempuh pendidikan public relations di negeri Ratu Elizabeth, tepatnya di London City College of Management Studies, London. Ia lulus pada tahun 1987. Setahun kemudian ia kembali meneruskan pendidikannya di Manila, tepatnya di International Academy of Management and Economic, Manila. Setelah kenyang dengan ilmu yang didapat di luar negeri, Prita kemudian kembali ke tanah air dan mulai berkarir di sebuah perusahaan swasta bernama Clarck Hatch International, tentu saja masih bergelut di bidang public relations. Saat itulah, ia melihat peluang usaha untuk membangun sekolah yang mengajarkan khusus mengenai public relations. Menurutnya, kala itu tak ada sekolah khusus yang mengajarkan mengenai dunia PR kepada masyarakat yang ingin mempelajarinya. Kepiawaiannya dalam membaca peluang itulah yang akhirnya mendorong Prita mendirikan sebuah institusi pendidikan sederhana pada tahun 1992. Dengan bermodalkan uang seadanya yang berasal dari sisihan gaji dan tabungan pribadinya serta bantuan dari sekolahnya di London, ia mendirikan sekolah khusus yang mengajarkan tentang bidang kehumasan. Dengan hanya menyewa sebuah ruangan seluas 12 meter persegi di gedung WTC, Jalan Sudirman, Jakarta, Prita memberanikan diri untuk menyelenggarakan kegiatan perkuliahan. Ia semakin yakin tatkala sang suami, Kemal Efendi Gani (49) mendukung rencana Prita. Kala itu, Prita hanya mampu menggaet 12 orang ekspatriat untuk mengajar di sekolahnya. Tak diduga sebelumnya, ternyata para calon mahasiswa yang mendaftar cukup banyak. Namun, karena keterbatasan ruangan dan jumlah pengajar, Prita hanya membatasi 30 mahasiswa untuk diterima. Karena semakin banyak calon mahasiswa yang mendaftar, ia pun lantas memutuskan untuk memindahkan lokasi perkuliahan ke ruangan yang lebih besar di Gedung Wisma Dharmala, Jakarta. Seiring dengan berjalannya waktu, daya tarik sekolah yang didirikannya tersebut semakin merangkak naik. Jumlah calon mahasiswa yang mendaftar semakin bertambah. Terlebih lagi ketika tahun 1998, saat krisis moneter mendera tanah air, sekolah milik Prita justru kebanjiran para pendaftar. Apalagi, ijazah yang diberikan berasal dari London, Inggris. Sehingga, banyak calon mahasiswa yang memilih untuk bersekolah di LSPR (London School Public Relations). Ibu tiga anak ini kemudian memutuskan untuk meningkatkan sekolahnya menjadi sekolah tinggi pada tahun 1999. Dengan begitu, LSPR praktis menjadi sekolah setingkat universitas pada umumnya. Pola kekerabatan dalam rumah tangga juga diterapkannya untuk memimpin bisnis, karena Prita menganggap seluruh staf dan mahasiswa di LSPR sebagai bagian dari keluarga besarnya. Sehingga hampir tak ada batasan antara dirinya dengan karyawan bawahan sekalipun. Dengan begitu kondisi dalam sekolahnya akan terasa nyaman untuk menuntut ilmu. Berkat kegigihan dan prestasinya di bidang kehumasan, Prita Kemal Gani berhasil memperoleh sejumlah penghargaan, yaitu : - Inspiration Award dari Rakyat Merdeka Online - Tokoh Humas Pilihan Serikat Perusahaan Pers (SPS) di The 3rd Indonesia - Public Relations Awards & Summit (IPRAS) 2014, Yogyakarta - Penghargaan ASEAN People Award (APA) KTT ASEAN ke-27 di Kuala Lumpur, Malaysia (Lka)

Pembukaan S2 Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka

Setelah sekian lama hal yang sudah ditunggu-tunggu dan dinanti-nantikan akhirnya terwujud sudah, kampusku Stisipol Candradimuka demi mewujudkan kecerdasan kehidupan bangsa kini telah dibukanya Magister Ilmu Komunikasi secara resmi penyerahan SK Program Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi pada hari kamis, 14 Maret 2019 di Novotel Bandar Lampung.
SK diserahkan langsung oleh kepala LLDIKTI Wil. II Prof. Dr. Slamet Widodo, M.S.,M.M kepada ketua Stisipol Candradimuka Palembang Ibu Dr. Hj. Lishapsari Prihatin, M.Si didamping Bpk. H. Yudi Dewanto,SE selaku Ketua Yasasan Seni dan Ilmu Pengetahuan Candradimuka.

Dengan ini, secara resmi Program Pascasarjana Magister Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka telah dibuka. Harapan saya semoga kampusku ini semakin jaya menjadi salah satu kampus pilihan dikota palembang (amiin)

Personal Branding (Mem-PR-kan Diri Sendiri)

Bisa jadi setiap orang pasti sedikit sulit untuk menceritakan tentang dirinya sendiri, yaa bagaimana tidak sebab karakter diri seseorang hanya bisa orang lain yang menilai tapi terkadang orang terlalu pintar menilai orang lain tapi ia terlalu bodoh untuk menilai dirinya sendiri.

Oke baiklah, Nama saya M.Soleh, saya lahir tanggal 03 april 1996  di palembang jadi kalo dihitung-hitung umur saya sudah hampir masuk 23 tahun bukan hampir lagi sih tapi sudah mulai mau masuk haha.., Tinggi saya sekitar 178cm dan berat 75kg, kata orang sih itu tubuh saya udah ideal gak kurus dan gak gemuk.

Saya bekerja di salah satu Toko Buku Terbesar Se-Asia yaitu Gramedia World Palembang, saya bekerja sudah 3 tahun sebagai Store Associate yaa bisa dikatakan Sales seperti itu jadi setiap hari saya harus berjualan, yaa memang saya lebih suka menjadi marketing sebab saya termasuk orang yang suka berbicara dan bertanya sekalian cari teman kalau ada konsumen yang ramah hehe..

Menurut diri saya pribadi saya termasuk orang yang suka mencari hal-hal yang baru,melakukan eksperimen dan welcome kepada orang-orang yang ada disekitar saya, maka dari situ saya banyak sekali teman dan semoga saja disaat saya menikah rame yang datang jadi amplop nya banyak hahaha..

Saya tidak mudah terprovokasi dengan hal-hal yang ada disekitar saya sebab saya selalu bersifat mending cari tahu dulu aja jangan denger dari penyampaian orang lain karena bisa aja penyampaian orang lain udah ditambah-tambahi tapi masukan orang harus ditampung dulu yaa..

Saya suka sekali bercanda karena katanya sering ketawa bisa bikin awet muda hehe (semoga saja), jadi kata teman saya kalau ada tanpa saya itu gak seru karena berasa sekali sunyinya hehehe loh pikir gua pengamen yaa biar berisik gitu.. haha

Harapan saya kedepan semoga sifat dan sikap saya diterima oleh orang banyak dan tidak ada yang tersakiti karena saya pribadi hanya bisa memberikan yang terbaik bagi semua orang agar saya selalu menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Table Manner Di Hotel Harper Palembang

Table Manner Hotel Harper Palembang








Sebagai mahasiswa yang kuliah di jurusan komunikasi  tentu -saya khususnya- dituntut dalam mengetahui etiket jamuan makan secara formal, apalagi dalam mata kuliah lobi dan negosiasi yang saya lalui dimana dalam dunia kerja dituntut untuk bertemu klien. Nah, tidak mau kan kalau saja kita sebagai seorang ‘beretika’ tapi enggak tahu bagaimana cara makan yang benar dan diakui seluruh dunia? Haha, kalau pun takdir berkata saya dijadikan seorang menteri (amin) dan hadir pada jamuan makan pemerintah Amerika tapi saya tidak tahu sama sekali cara menggunakan garpu dan pisau untuk makan steak? Wah sesuatu yang berbahaya. Nah, maka dari itu pembelajaran table manner menurut saya sangat penting dan berguna sekali.
Singkat cerita dimata kuliah lobi negosiasi, diadakan kelas table manner di hotel. Nah, angkatan saya pada waktu itu table manner di Hotel Harper Palembang, harga yang dibebankan per-mahasiswa Rp. 140.000,- dan menurut saya masih terbilang worth it lah ya dengan makanan yang mewah ditambah ilmu yang bermanfaat.
Asal usul sejarah table manner sendiri yakni dari daratan Eropa sana, tepatnya Raja Louis XIV yang sangat terkenal sering mengadakan jamuan untuk menghormati bangsawan-bangsawan lainnya, aturan jamuan makan dulu dan sekarang pun berbeda karena perkembangan masyarakat yang modern baik menyangkut invitation card, susunan tata meja, dan sistem pelayanan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1. Cara duduk
2. Cara memakai serbet kain atau kertas
3. Cara makan dan minum
4. Cara memegang garpu, sendok, dan pisau
5. Cara meminum di sudut cangkir yang benar
Berikut menu jamuan makan kami hehehe..
Appetizer
Fruit salad with avocado 
mixes of fruit's with honey mayonnaise dressing

Soup
seafood chowder
Traditional seafood cream soup served with crouton

Main course
Grilled chicken breast 
Chicken with vegetable, baked potato, served with mushroom sauce

Dessert
Tiramisu cake almode, served with strawbery sauce
Yaa itulah cerita saya saat mengikuti table manner bersama teman-teman kampus berserta Dosen pembimbing kami ibu Sumarni Bayu Anita yang biasa di sapa Ibu Nita, kami ucapkan Terima kasih..

Review Buku Manajemen Public Relations & Media Komunikasi (Rosady Ruslan)

Review Buku Manajemen Public Relations & Media Komunikasi (Rosady Ruslan)
Gambar terkait
Sebelum mulai alangka baiknya berbagi sedikit info sedikit tentang buku ini, Buku Manajemen Public Relations & Media Komunikasi tersedia lohh di Gramedia seharga Rp 112,000 dan kebetulan saya kerja di Gramedia jadi saya gak perlu beli hehehe..

Oke baiklah teman-teman mari dengarkan ceritaku setelah aku membaca buku ini. Buku ini lebih tertuju tentang PR/Humas dan banyak sekali pendapat dan masukan para tokoh-tokoh PR bukan itu aja kita tahu asal mula nya dan sejarahnya PR. Pengertian,fungsi dan faktor tentang Public Relations juga lengkap.

jadi wajar aja dosen gua nyaranin buat baca buku ini emang nyatanya bagus sobb..Mulai dari tahap-tahap periodisasi nya opini publik dari asal mula sampe sekarang dan juga ada model pratek humas juga nih dan ada pembahasan tentang aspek organisasi dan strategi public relations dan masih banyak lagi nih kalo sering-sering baca dan dipahami bisa jadi gua akan jago nih untuk urusan PR(amiin) hehehehe

Sekian itulah sedikit ceritaku semoga bisa membuat kalian semua penasaran hehehe rajin-rajinlah membaca sob sebab membaca adalah gerbang menuju kesuksesan.

Seminar KPU-RRI

Seminar KPU-RRI
Hayoo mungkin ada yang bisa menebak kenapa saya selfie disini dan ada acara apa?hahaha
Gini teman-teman dikampusku Stisipol Candradimuka ngadain seminar Komisi Pemilihan Umum yang diselenggarai oleh Radio Republik Indonesia atau yang biasa kita sebut RRI. Disini membahas tentang pemilihan Capres dan Cawapres 2019, yaa kami kan termasuk generasi milenials yang diharuskan jangan sampai salah memilih atau mudah terprovokasi oleh berita-berita hoax yang sering disebar luaskan melalui media sosial.
Guna seminar ini dilakukan fungsinya untuk saling mengarahkan dan memberi pelajaran untuk mahasiswa Stisipol Candradimuka untuk cerdas menggunakan Gadget dan Sosial Media.

Seminar Broadcasting Radio Elshinta

Hasil gambar untuk radio elshinta
Dikampusku Stisipol Candradimuka, tanggal 12 februari 2019 diadakan seminar interaktif Broadcasting bersama Radio Elshinta dan bukan hanya sekedar seminar tapi adanya lomba Berita dan Vlog.

Itu sekalian memperingati Hari Ulang Tahunnya Radio Elshinta yang ke-19tahun dan doa saya semoga Radio Elshinta semakin jaya dan menjadi pilihan utama masyarakat indonesia.

Kebetulan saya adalah mahasiswa ilmu komunikasi menurut saya seminar ini sangatlah penting yaa kenapa tidak dari sini saya tahu bagaimana dunia penyiaran dan suasana dibalik layar.

Yaa singkat cerita mungkin saya kurang sekali membaca karena tuntutan kerja harus saya jalani juga jadi dengan adanya seminar seperti ini sangatlah penting bagi saya untuk melihat dan mendengar langsung ilmu yang disampaikan para ahlinya.

Produksi Media Cetak & Kit


PRODUKSI MEDIA CETAK

Pembicaraan tentang media cetak berarti membicarakan pers. Sebab terminologi pers terdiri dari: Pertama, pers dalam arti luas adalah seluruh alat komunikasi massa baik cetak maupun elektronik. Kedua, pers dalam arti sempit secara spesifik tertuju pada media cetak berbentuk surat kabar dan majalah. Dalam berbagai literatur surat kabar digunakan sebagai sebutan untuk media cetak yang content-nya mengutamakan hasil jurnalisme berbentuk berita (news). Sementara sebutan untuk pers digunakan untuk seluruh media massa tercetak yang terbit secara reguler baik yang mengutamakan jurnalisme maupun hiburan.Ada tiga pendekatan yang biasa dilakukan dalam kajian tentang pers. Pertama, pendekatan etika atas eksistensi institusi pers dan prilaku pelaku profesional pers (jurnalis). Kedua, pendekatan ilmu sosial atas eksistensi institusi pers. Ketiga, pendekatan praktis atas kerja teknis pelaku profesional pers dalam institusi pers.Titik tolak kajian tulisan ini melihat fenomena pers sebagai institusi sosial yang menjadi bagian dari komunikasi massa. Bukan semata-mata berdasarkan pendekatan praktis dan kerja teknis dalam konteks jurnalisme.Diktat kuliah: Produksi Media Cetak ini ditulis bukan dimaksudkan jadi bacaan instant mahasiswa yang mengambil mata kuliah ini. Tetapi hanya sekedar pembuka diskusi di ruang kuliah. Sebab sebagai diktat ia hanya memuat pokok-pokok pikiran penulisnya. Hal-hal yang lebih detil dapat dilihat pada literatur yang diacu atau bahan-bahan lain yang berkaitan dengan mata kuliah ini.Menuangkan setumpuk gagasan yang ada di kepala menjadi sebentuk tulisan yang belum tentu dimengerti oleh orang lain bukanlah pekerjaan mudah. Apalagi bila ditulis di sela-sela waktu luang di tengah kesibukan mengajar di beberapa perguruan tinggi dalam rangka bertahan hidup. Maklum, kehidupan intelektual di negeri ini belum senyaman birokrat apalagi legislator di parlemen. Dengan demikian, bukan basa-basi kalau tulisan ini mengandung banyak kelemahan. Bahkan mungkin tidak layak disebut sebagai tulisan ilmiah. Untuk itu semua, izinkanlah saya untuk tidak minta maaf. Sebab lebih adil bila Anda menulis tulisan dengan tema yang sama sebagai komparasinya dalam rangka dialektika ilmiah. 
A. Manajemen Media Cetak

Dengan mengutip pakar komunikasi Kanada Marshall McLuhan yang mengatakan the press is the extention of man, Jakob Oetama mengatakan pers merupakan perpanjangan alat untuk memenuhi kebutuhan manusia terhadap informasi, hiburan, pendidikan dan keingintahuan mengenai peristiwa yang terjadi di sekitarnya (Oetama, 1987). Inilah yang dimanifestasikannya dalam surat kabar KOMPAS yang didirikannya bersama dengan PK Ojong (alm) tanggal 28 Juni 1965 dengan struktur yang kurang lebih sebagai berikut: Pertama, owner: pemilik perusahaan yang menerima laporan pertanggungjawaban dari top manager. Terkadang owner identik dengan top manajer. Kedua, top manager: pengambil kebijakan internal dan eksternal. Serta pengendali perusahaan baik redaksional maupun usaha. Juga menerima laporan pemimpin redaksi dan pemimpin perusahaan. Ketiga, pemimpin umum: orang pertama dalam perusahaan yang bertanggung jawab atas maju mundurnya institusi pers yang dipimpinnya. Serta menjadi penentu kebijakan, arah perkembangan laba rugi perusahaan. Termasuk berhak mengangkat atau memecat bawahannya. Terkadang pemimpin umum adalah top manager sekaligus owner. Keempat, wakil pemimpin umum: menjalankan tugas-tugas pemimpin umum atau menggantikannya dalam operasionalisasi harian. Kelima, bidang redaksi: pemimpin redaksi, wakil pemimpin redaksi, sekretaris redaksi, redaktur pelaksana, redaktur dan reporter bertanggung jawab terhadap semua isi penerbitan pers. Ini meliputi penyajian berita, peliputan fokus pemberitaan, topik, pemilihan headline dll. Keenam, bidang cetak: ditangani oleh operator cetak dan pengepakan hasil penerbitan sehingga sampai ke tangan pembaca. Ketujuh, bidang usaha: menerima laporan para manajer demi kepentingan perusahaan baik produksi dan distrubusi.
B. Zona Pasar Media Cetak

Pertama, CZ (City Zone): batas wilayah media cetak itu berada. Kedua, PMA (Primary Market Area): area utama tempat media cetak itu menyajikan berita dan pelayanan iklannya. Ketiga, RTZ (Retail Trading Zone): wilayah di luar CZ tempat media cetak itu diperjualbelikan. Keempat, NDM (Newspaper Designated Market): area geografis yang dianggap media cetak itu sebagai pasarnya.
C. Format Media Cetak

1. Broadsheet: ukuran surat kabar umum. Misalnya, KOMPAS, Media Indonesia, Republika dll.2. Tabloid: ukuran setengah broadsheet. Format ini diperkenalkan untuk dikonsumsi oleh pembaca di kalangan masyarakat urban yang sibuk dalam transportasi umum seperti bus, kereta api dll. Misalnya, KORAN TEMPO dll.3. Magazine: ukuran setengah tabloid atau seperempat broadsheet. Halamannya diikat dengan kawat, sampul lebih tebal dan mengkilap daripada halamannya. Misalnya, Majalah TEMPO dll.4. Book: ukuran setengah magazine atau seperempat tabloid atau seperdelapan broadsheet. Misalnya, Majalah INTISARI dll.
D. Struktur Organisasi Media Cetak

Pertama, redaksi yang terdiri dari pemimpin redaksi; wakil pemimpin redaksi; sekretaris redaksi; dewan redaksi; redaktur pelaksana; redaktur; koresponden (reporter di luar kota atau di luar negeri). Kedua, tata usaha yang terdiri dari administrasi internal yang mengurusi manajemen internal, kepegawaian, penggajian dll; administrasi eksternal yang mengurusi pemasaran, sirkulasi, iklan, langganan dll. Ketiga, produksi yang terdiri dari percetakan sendiri atau percetakan lain.
E. Proses Media Cetak

Pertama, kebijakan redaksi y
ang tergantung pada ideologi atau politik media cetak. Misal, KOMPAS (Katolik), Suara Pembaruan (Kristen), Republika (Islam), Suara Karya (Parpol) dll. Kedua, frekuensi terbit: harian; mingguan, dwi mingguan; bulanan. Ketiga, tenggat terbit: jam (harian); hari tertentu (mingguan); minggu tertentu (bulanan). Ini perlu diketahui dan diperhatikan oleh pemasang iklan. Keempat, cetak: off set modern sampai dengan cetak digital jarak jauh. Kelima, sirkulasi: lokal; nasional; regional; internasional. Keenam, pembaca: jenis kelamin, usia, pendidikan, penghasilan, profesi, hobby, suku, agama dan ras/etnik. Ketujuh, metode distribusi: bagaimana media cetak itu didistribusikan. Misalnya, eceran, loper, agen, toko dll.

Sabtu, 23 Maret 2019

Marketing Public Relations & MICE


Marketing Public Relations

Hasil gambar untuk Marketing public relations
MPR STRATEGIC PLANNING


Reviewing  The Situation => Setting MPR Objective => Develoving MPR Strategy =>MPR Tactics =>Measuring & Evaluation MPR Program


REVIEWING THE SITUATION

Sepuluh Pertanyaan Dasar (Ron Kaatz) :

  1. Apa jenis produk dari layanan kita ?
  2. Siapa target kita ? Bagaimana gaya hidup mereka ? bagaimana mereka memikirkannya ? Bagaimana produk dan servis kita cocok dengan kehidupan mereka ?
  3. Apa yang bisa kita perbuat ? apa yang mereka ingin tahu tentang produk dan layanan kita ?
  4. Dari mana dan dari siapa mereka mendapatkan merek utama (prioritas) dalam proses keputusan pembelian ?
  5. Apa kepentingan dan keuntungan mereka melalui kontak dengan kita ?
  6. Apa yang dibutuhkan konsumen dari kita dalam membantu proses pengambilan keputusan mereka dan bagaimana kita bisa membantu pemenuhan kebutuhan tersebut ?
  7. Apakah tawaran kita layak dihentikan ?
  8. Apakah tawaran kita layak dijalankan ? siapa dan apa pengaruh positif buat mereka dan siapa atau apa yang bisa membuat mereka percaya ?
  9. Bagaimana kita bisa menciptakan ikatan dengan mereka dan mengarahkan pada suatu hubungan positif, rasa saling percaya ?
  10. Apa karakteristik sistem penyampaian pesan yang efektif dan membantu kita mencapai semua secara maksimal ?

GUNA RISET KONSUMEN DALAM IMC

        1.Public Relations Contact Point.
          *Sistem penyampaian pesan yang mempengaruhi pemaknaan atau arti merek.
        2.Media Research
           COMPANY         HOW        BRAND
             (Digambarkan saat ini oleh media)

IDENTIFYING SWOTs

  1. Strengths (kekuatan) : punya terbaik
  2. Weaknesses (kelemahan : keterbatasan
  3. Opportunities (peluang/kesempatan) : situasi dimana kekuatan perusahaan dan faktor eksternal di upayakan untuk tangani problem dalam perencanaan.
  4. Threats (ancaman) : situasi yang dapat buat kerugian bagi kemampuan perusahaan mengindentifikasi masalah.

STEP TWO : SETTING MPR OBJECTIVE

PRINSIP DASAR : Mengacu pada perencanaan pemasaran terpadu.

TUJUAN PEMASARAN
  • Memaparkan kebijakan yang harus segera dijalankan untuk mencapai tujuan penjualan.
  • Produk tidak hanya harus ada di toko, namun ditampilkan dan buat elemen pengikut untuk peroleh keuntungan maksimal. 
TUJUAN PEMASARAN KONSUMEN

Produk Baru : Launching dengan pola uji coba (low ticket consumables)
Target Audiens Untuk Periode Tertentu : Biasanya Pertahun.




MICE

Hasil gambar untuk Metting
Pengertian-Pengertian

Metting : Suatu kegiatan sekelompok orang di dalam suatu organisasi dilaksanakan untuk mencapai tujuan kelompok atau organisasi.
Incentive : Suatu kegiatan perjalanan yang diselenggarakan oleh suatu organisasi atau perusahaan untuk para karyawannya/mitra usaha sebagai imbalan penghargaan atas prestasi mereka.
Conference : Kegiatan berupa pertemuan sekelompok orang (negarawan, usahawan, usbnya) untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama.
Exhibition : Suatu kegiatan menyebar luaskan informasi dan promosi yang ada hubungannya dengan penyelenggaraan konvensi atau yang ada kaitannya dengan pariwisata.


Sifat Konvensi

Konvensi lokal : Pertemuan ini bersifat lokal dan diselenggarakan oleh kelompok kecil yang potensial, mungkin saja bersifat mandiri yang mempunyai organisasi dengan pedoman kerja (AD/ART).
Konvensi daerah : Konvensi yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah daerah atau organisasi swasta daerah yang mandiri dengan pedoman kerja (AD/ART) yang kegiatannya ditunjukan untuk memajukan daerah setempat.
Konvensi nasional : Melibatkan para peserta dan penyelenggara pada skala nasional, kegiatan ini bisa saja dilakukan oleh pemerintah, atau oleh swasta atau kerja sama kedua belah pihak. Karena cakupannya lebih luas, sehingga jenis konvensi ini memberikan dampak yang lebih besar bagi penyelenggara maupun tempat penyelenggaranya.
Konvensi regional : Penyelenggara konvensi ini didasarkan oleh letak geografis, yakni negara-negara bertetangga yang sepakat membentuk wilayah untuk kepentingan bersama. Contoh : MEE, ASEAN, ATF (Asean Travel Forum), AFRA, PATA.
Konvensi internasional : Seperti konvensi regional namun dengan cakupan yang lebih luas/mengglobal yang meliputi kerjasama antar benua. Contoh : WTO,DATA


Ukuran Konvensi

Konvensi ukuran kecil : 20-50 peserta
Konvensi ukuran sedang : 60-200 peserta
Konvensi ukuran besar : 200-20.000 peserta


Beberapa istilah dalam konvensi

Delegasi : Para peserta perorangan, pemerintah, asosiasi, perusahaan dari dalam/luar negeri yang turut serta dalam konvensi.
Accompanying person : Pedamping peserta yang terdapat dari isteri, anak, keluarga atau staf dari peserta konvensi.
Spouse : Isteri-isteri dari para peserta konvensi yang turut serta mendampingi dalam suatu kegiatan konvensi.
Exhibitor : Sekumpulan orang yang memamerkan hasil kerjanya, baik berupa produk maupun jasa kepada para peserta suatu konvensi dengan tujuan komersial.
Supplier : Suatu badan hukum, konvensi perorangan, sekelompok orang yang menyediakan sarana wisata konvensi maupun jasa akomodasi, fasitas, sarana liburan, perjalanan, rekreasi dan souvenir.
Fast country : Negara yang menjadi tuan rumah suatu konvensi.
PCO : Usaha jasa konvensi, perjalanan insentif dan pameran yang merupakan usaha dengan kegiatan pokok memberikan jasa pelayanan bagi suatu pertemuan sekelompok orang/negarawan, usahawan, cendikiawan, dsbnya untuk membahas masalah-masalah yang berkaitan dengan kepentingan bersama.
PEO : Suatu badan hukum/perorangan/sekelompok orang yang tugasnya merencanakan, mempersiapkan dan melaksanakan penyelenggaraan suatu pameran secara profesional,
Steering Committee : Sekelompok orang yang tugasnya memberikan pengarahan suatu kegiatan seperti penyelengaraan suatu konvensi.
Sponsor : Suatu badan hukum, asosiasi, sekelompok orang atau organisasi , masyarakat afiliasi atau perusahaan, instansi swasta atau pemerintah maupun seorang dermawan perorangan yang mensponsori suatu penyelenggaraan kegiatan-kegiatan.
Social event : Acara kegiatan sosial yang diberikan kepada peserta konvensi bersama pendamping, berupa pertemuan selamat datang (welcome party), malam kesenian serta acara khusus bagi wanita (ladies progamme)
Official event : Acara kegiatan resmi yang diberikan kepada peserta konvensi maupun bersama pendampingnya, berupa audiency kepada kepala negara atau pejabat pemerintah setempat. Contoh : Pembukaan resmi suatu kegiatan konvensi.
Technical visit : Acara resmi yang mengunjungi obyek-obyek yang bersifat teknis yang ada sangkutpautnya dengan penyelenggara suatu konvensi.
Audio visual : Sarana komunikasi berupa film, video atau slides yang digunakan dalam sales promotion campaign untuk memberikan informasi pada yang berkepentingan secara tepat guna dan hasil guna.
Decision maker : Pejabat executive yang mempunyai wewenang mengambil suatu keputusan tempat penyelenggaraan suatu konvensi. Pejabat executive tersebut dapat terdiri dari sales executive atau presiden perusahaan maupun sekelompok anggota Board Of Director. Executive council dan lain sebagainya.
Organizing committee : Sekelompok orang yang menjadi anggota panitia suatu kegiata dengan tugas merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan suatu kegiatan suatu penyelenggaraan suatu konvensi.
Pre & Post Coperence tour : Acara penyelenggaraan wisata khususnya bagi peserta konvensi yang diadakan sebelum dan sesudah konvensi.
Peserta pameran : Seseorang/sekelompok orang/perusahaan yang ikut serta memamerkan hasil karyanya yang ada kaitannya dengan penyelenggaraan suatu konvensi.


Organisasi penyelenggara

Panitia pengarah (steering committee/sc

Terdiri dari beberapa orang memperoleh wewenang pemerintah,organisasi,instansi,asosiasi,dll.
Mengarahkan,penasehat,petunjuk bagi panitia pelaksana (cc) agar mencapai tujuan.

Panitia pelaksana

Dibentuk oleh panitia pengarah.
Jumlah disesuaikan dengan besar kecilnya konvensi.
Biasanya dilengkapi dengan sub-komite sesuai dengan kebutuhan dll.


Sub Committee OC

Sekretariat

Memperlancar urusan adminitrasi, keuangan, komunikasi dalam pelaksana kegiatan.

Penyelenggara konvensi

Melaksanakan tugas bidang berkaitan dengan :

  1. Fasilitas
  2. Akomodasi
  3. Transportasi
  4. Darmawisata
Bertugas memproduksi,mendistribusikan berbagai jenis bahan informasi seperti materi, media promosi, dan lain-lain.
  1. Protokoler & Visa
  2. Keamanan
  3. Keuangan
  4. Program teknis
  5. Pameran
Perkembangan Konvensi Di Indonesia

           Tahun                                           Jumlah peserta 
  • 1985                                                 57.170
  • 1986                                                 60.227
  • 1987                                                 73.175
  • 1988                                                 69.405
  • 1989                                                 73.769
  • 1990                                                 100.350
  • 1991                                                 111.940
  • 1992                                                 119.785
  • 1993                                                 127.195
  • 1994                                                 141.203
Perkembangan Usaha Jasa MICE

Indonesia sebagai daerah tujuan wisata konvensi akan dikembangkan sesuai dengan UU Pariwisata No.9 Tahun 1990.

Sebagai pelaksana UU tersebut telah Dikeluarkan : SK Menteri Parpostel No.108 th.1991 SK Ditjen Pariwisata No.6 th.1992 tentang peraturan untuk penyelenggaraan usaha MICE.

Persyaratan Utama PCO

Merupakan badan hukum atau perseroan terbatas (PT)

Mempunyai kantor dengan syarat luas minimum 60m' dan memiliki fasilitas telekomunikasi 60m'.

Mempunyai staf terlatih/berijazah khusus PCO yang diakui oleh Ditjen pariwisata.

Berpengalaman menyelenggarakan konvensi nasional sedikitnya 5 kali dan konvensi internasional minimal 2 kali.

Modal disetor Rp 500.000.000


Tugas Utama PCO

  1. Menyusun rencana dan anggaran penyelenggaraan.
  2. Mengurus perizinan yang diperlukan.
  3. Menyelenggarakan kegiatan sekretariat konferensi.
  4. Menyelenggarakan kegiatan konvensi/eksibisi.
  5. Menyiapkan/mengatur transportasi dan akomodasi.
  6. Menyiapkan tempat penyelenggaraan.
  7. Mengkordinir promosi dan Public Relations (PR)
  8. Menyelenggarakan pre dan post-tour.

Rabu, 20 Maret 2019

Penulisan Naskah Public Relation

Hasil gambar untuk naskah public relation

Naskah PR

Bivins mengatakan meskipun semua press release yang dibuat PR memiliki format yang sama, sebenarnya memiliki perbedaan penekanan pada informasinya, yaitu :
  1. Basic press release mencakup berbagai informasi yang terdapat di dalam suatu organisasi atau perusahaan yang memiliki berbagai nilai berita untuk media lokal, regional ataupun nasional.
  2. Product release mencakup transaksi tentang target suatu produk khusus atau produk regular lainnya untuk suatu publikasi perdagangan didalam suatu industri.
  3. Financial release digunakan terutama dalam membina hubungan dengan pemegang saham. Umumnya banyak media lokal, regional dan nasional menyoroti masalah keuangan.

Press release atau News release merupakan kegiatan yang paling banyak dilakukan oleh praktisi  PR untuk publikasi melalui media massa cetak (surat kabar dan majalah) dan media massa elektronik (TV dan radio).

Kini, media cetak online ikut menjadi salah satu media sasaran PR untuk mengirimkan press release-nya.


Mengapa menggunakan piramida terbalik dalam PR ? Ada tiga alasan untuk menjelaskannya :
  1. Pembaca dikategorikan sebagai orang sibuk yang mempunyai waktu yang singkat untuk mendapatkan berita-berita yang faktual.
  2. Redaksi media massa harus memotong Press release tersebut tanpa mengurangi isi pokoknya.
  3. Redaksi tidak mempunyai cukup waktu untuk membaca keseluruhan Press release.
Sebelum redaksi memutuskan dibuang atau dipakai release tersebut, mereka harus tahu dengan cepat apa keseluruhan isi release itu (cole, 1981:42)

Setelah menulis lead sebagai paragraf pertama, kembangkan lead itu dalam paragraf kedua untuk menjelaskan atau mendukung paragraf pertama yang perlu dijelaskan. Penulisan dengan gaya piramid terbalik ini berarti menulis berita dari mulai yang sangat penting (lead) sampai kepada semakin tidak penting. Sedangkan judul diambil dari lead (berita yang sangat penting tadi).


Contoh PRL yang dikeluarkan oleh ABN AMRO Bank sebagai lead atau paragraf pertama yang dianggap sangat penting :

Pembukaan ABN AMRO Bank di Bandung dilakukan hari ini (15 Oktober 1992) oleh Bapak Karna Swanda atas nama Gubernur Jawa Barat didampingi oleh Duta Besar Kerajaan Belanda dan Bapak Zweegers dari Amsterdam, Wakil Presiden Eksekutif Group ABN AMRO Bank untuk Asia, Australia, dan Afrika. Bank telah memberikan perangkat jasa-jasa perusahaan selama hampir satu tahun, sekarang bank melayani perangkat penuh jasa-jasa perorangan dan perusahaan.

Lead sebagai paragraf pertama yang dianggap sangat penting oleh ABN AMRO Bank sebagai berita yang layak muat dimedia massa adalah tentang pembukaan bank tersebut oleh Wakil Gubernur Jawa Barat didampingi oleh Dubes Kerajaan Belanda dan Wakil Presdir ABN AMRO Bank untuk Asia, Australia dan Afrika.


Feature

Karangan khas/tuturan biasanya dibuat lebih dari satu, dengan isi berkaitan satu sama lain. Feature berbeda sekali dengan tulisan news (berita/pers release) yang disusun seperti piramida terbalik yang hanya terdiri atas lead, tubuh dan penutup. Feature disusun seperti kerucut terbalik yang terdiri  dari lead, jembatan diantara lead dan tubuh, tubuh tulisan dan penutup.

Struktur penulisan Feature


Hasil gambar untuk struktur penulisan feature

Ceritaku Membuat Makalah Call For Paper

Assalamualaikum.. Hai semua kembali lagi di blogku yang tercinta, kali ini aku mau menceritakan pengalamanku ketika mendapat tugas membuat m...